Minggu, 07 September 2014

NILAI MORAL YANG TERKANDUNG DALAM FALSAFAH JAWA ATAU UNEN-UNEN Riwut Wulan Larasati

NILAI MORAL YANG TERKANDUNG DALAM FALSAFAH JAWA ATAU UNEN-UNEN Riwut Wulan Larasati 1220717060/ DOSEN PEMBIMBING AGOES HENDRIYANTO, M.Pd
 Abstrak 
Falsafah Jawa atau Unen-unen merupakan salah satu wujud kebudayaan masyarakat Jawa. Ia tidak hanya mampu memberikan gambaran tentang jati diri masyarakat Jawa, tentang simbol-simbol sosial yang mereka anut dalam beraktifitas, tapi juga tentang pegangan hidup mereka yang berwujud falsafah-falsafah kebatinan. Salah satunya adalah falsafah yang memberikan makna tentang kehidupan manusia. Sayangnya, faktor keterbatasan pemahaman masyarakat Jawa terhadap Falsafah Jawa atau Unen-unen, menjadikan hasil budaya ini menjadi kurang bermakna. Ia seringkali ditempatkan hanya sebagai pernak-pernik budaya yang tidak memiliki peran signifikan dalam membangun masyarakat utamanya dalam kehidupan sosial masyarakat. Akibatnya, ketika masyarakat Jawa menjalani kehidupan ini sering kali salah arah dan tidak memiliki pegangan atau pedoman hidup. Masyarakat menganggap bahwa Falsafah Jawa atau Unen-unen, hanya untaian kata-kata yang tidak mengandung makna yang berarti. Padahal jika kita telah banyak sekali nilai-nilai yang terkandung dalam Falsafah tersebut. Jika masyarakat jawa tidak begitu merasakan adanya nilai-nilai tersebut maka banyak diantara mereka menjadi salah arah dan akhirnya tersesat dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Masyarakat Jawa hendaknya kembali menengok akar budaya mereka salah satunya dengan berusaha mengenal, menghayati dan mengamalkan makna-makna yang terkandung dibalik aksioma Falsafah Jawa atau Unen-unen. niscaya, perilaku mereka akan terjaga.
 Kata Kunci: Falsafah, Jawa. Unen-unen 
 Abstract 
Javanese philosophy or Unen-unen is one manifestation of Javanese culture. He was not only able to provide an overview of the Java community identity, about social symbols which they profess in their activities, but also about their lifeline in the form of mystical philosophies. One is the philosophy that gives the meaning of human life. Unfortunately, the factors of limited public understanding of the philosophy of Java or Java-unen Unen, making this culture results become less meaningful. He often placed just as cultural trinkets that do not have a significant role in building the society particularly in the social life of the community. As a result, when the Java community life is often wrong direction and did not have a handle or a way of life. Society considers that the philosophy of Java or Unen-unen, only the string of words that do not contain significant meaning. In fact, if we examine a lot of the values contained in the philosophy. If the Java community is not so feel the values are so many of them being wrong direction and ended up getting lost in life in this world. Java community should re-look at their cultural roots by trying to penetrate one of the meanings behind the axiom Philosophy Java or Unen-unen. undoubtedly, their behavior will be maintained. Key Word: Philosophy, Java, Unen-unen 



 PENDAHULUAN 
Pengantar Pulau Jawa dikenal sebagai pulau yang makmur. Tanahnya yang gembur, landscapenya yang datar, penduduknya yang mayoritas terpelajar, serta seni budayanya yang tinggi menjadikan pulau Jawa menjadi terkenal di hampir seluruh penjuru dunia. Pada jaman penjajahan Belanda dikenal dengan sebutan Java Dwipa. Pusat peradabannya di daerah Yogyakarta dan Surakarta yang sejak abad 16 sampai 19 sebagai ibukota kerajaan Mataram Islam. Sebagai pusat peradaban pada saat itu orang Jawa dikenal sebagai kelompok etnis yang memiliki kekayaan falsafah hidup dan unggah-ungguh (etika) yang sangat tinggi nilai-nilai moral, yang seringkali dibuat dalam bentuk peribahasa, langgam, dan konotasi yang sangat halus. Hal ini dapat terlihat walaupun hati orang Jawa tidak senang, namun mimik dan tata bahasa tetap manis sehingga mitra tuturnya akan kesulitan untuk menebak kata hati penutur Jawa. Sungguh sangat berbeda dengan etnis-etnis lain yang berkarakter tegas dan apa adanya. Orang Jawa sangat mengedepankan harmoni berbahasa dan kiasan dalam bersikap. Di Indonesia sendiri terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa dimana tiap kelompok etnik memiliki beberapa bahasa daerah. Penempatan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dalam Undang-undang Dasar Negara Kesatuan RI 1945 telah menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi antar suku, termasuk bahasa pengantar dalam pelaksanaan pendidikan anak bangsa di sekolah-sekolah dan universitas-universitas di seluruh Indonesia. Bahasa Indonesia juga bahasa yang resmi digunakan oleh pemerintah daerah seluruh Indonesia. Hasilnya, dari Sabang sampai Merauke seluruh rakyat Indonesia bisa berbahasa Indonesia. Bahasa Indonesialah yang mempersatukan Indonesia. Sebagai warga negara yang cinta dan peduli akan kebudayaan tersebut, maka hendaknya selalu berusaha untuk menjaga dan mempertahankannya. Pada umumnya dibeberapa suku-suku yang ada di indonesia ini memiliki ciri khas bahasa dialek sendiri-sendiri. Khususnya di Pulau Jawa, Pulau Jawa memiliki banyak keaneragaman bahasa-bahasa dialek. Terutama bahasa yang sering digunakan untuk menjadi peribahasa kehidupan manusia. Orang Jawa merupakan salah satu suku di Indonesia yang filosofis dimana setiap perilaku, gerak gerik dan bahkan ucapan mengandung makna-makna tertentu. Maka dari itu di tanah Suku Jawa banyak sekali falsafah tentang kehidupan. Namun di Era Globalisasi saat ini masyarakat jawa kurang memegang teguh pendirian atas sikap dan perilaku mereka. Sehingga menyebabkan banyak sekali orang-orang yang salah arah. Contohnya, sering terjadi korupsi. Dan itupun paling banyak dari kalangan keturunan orang jawa. Ini membuktikan bahwa masyarakat kurang memperhatikan Falsafah nenek moyang mereka, bahwa sesungguhnya falsafah tersebut banyak mengandung ajaran-ajaran nilai kehidupan untuk kedepannya. 
Rumusan Masalah
 Dari berbagai latar belakang diatas, saya ingin mengungkapkan fenomena yang terjadi pada saat ini, yaitu kurangnya kepercayaan, kepedulian, tanggapan pada Falsafah Jawa atau Unen-unen yang memiliki banyak nilai moral yang baik untuk kehidupan masyarakat. 
Tujuan 
Untuk mengungkapkan fenomena yang terjadi pada saat ini, yaitu kurangnya kepercayaan, kepedulian, tanggapan pada Falsafah Jawa atau Unen-unen yang memiliki banyak nilai moral yang baik untuk kehidupan masyarakat. 

 KAJIAN TEORI 
Hakikat Jawa
Jawa (Java), atau sebutan lain Djawa Dwipa atai Jawi adalah pulau yang terletak di tepi selatan kepulauan Indonesia. orang Jawa (Javanese) adalah orang yang memakai bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dan merupakan penduduk asli bagian tengah dan timur pulau Jawa, Suseno (dalam Sri Pamungkas,2012: 190). Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang kaya akan budaya. Perilaku keseharian masyarakat Jawa yang banyak dipengaruhi oleh alam pikiran yang bersifat spiritual. Orang Jawa sangat patuh terhadap tradisi dan adat istiadat yang ada di tempat tinggalnya. Kelas sosial dalam masyarakat Jawa masih dijunjung tinggi kedudukannya. Sistem religi orang Jawa mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri. Sistem religi orang Jawa terbagi atas dua, yaitu agama Islam putihan dan agama Islam abangan. Agama Islam putihan biasa disebut sebagai agama Islam yang murni. Ada sebagian penduduknya yang mempunyai orientasi yang lebih kuat terhadap agama Islam dari pada penduduk desa lainnya. Kehidupan masyarakat Jawa tidak dapat dilepaskan dari lingkungan tempat tinggalnya. Mereka akan selalu bergantung dan berinteraksi dengan lingkungan hidupnya melalui serangkaian pengalaman dan pengamatannya, baik secara langsung maupun tidak. Dari pengalaman hidup ini kemudian diperoleh citra lingkungan hidupnya yang memberikan petunjuk mengenai apa yang boleh dilakukan demi kebaikan hidupnya, Harahap (dalam Sri Pamungkas, 2012:192). Kebudayaan Jawa yang beragam inilah yang menyebabkan masyarakat Jawa memiliki keyakinan dan kepercayaan yang berbeda-beda. Seperti halnya dengan pamali, tidak semua masyarakat Jawa mempercayai dan meyakini hal tersebut. Kebanyakan orang-orang yang mempercayai adanya pamali adalah orang-orang yang berpendidikan rendah dan ilmu keagamaannya kurang. Telah dipaparkan diatas bahwa bahasa merupakan bagian dari kebudayaan. Kebudayaan Indonesia menjadi kaya karena sumbangan dari berbagai daerah, baik dari segi bahasa, adat istiadat, kepercayaan, dan sebagainya. Perkembangan pemakaian bahasa Indonesia di berbagai kehidupan manusia baik dalam bidang pemerintahan, pendidikan, dan perdagangan senantiasa tidak terlepas dari pengaruh besar bahasa Jawa. Dalam berfilosofi, orang Jawa seringkali menggunakan unen-unen untuk menata hidup manusia. Makna dari ungkapan-ungkapan Jawa ini seringkali tidak dipahami oleh sebagian besar keturunan etnis Jawa di era modern ini. Maka tidak salah, jika muncul sebutan, "Wong Jowo sing ora njawani". Filosofi Jawa dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Warisan budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan mampu menambah wawasan kebijaksanaan. Falsafah Jawa atau Unen-unen merupakan salah satu wujud kebudayaan masyarakat Jawa. Ia tidak hanya mampu memberikan gambaran tentang jati diri masyarakat Jawa, tentang simbol-simbol sosial yang mereka anut dalam beraktifitas, tapi juga tentang pegangan hidup mereka yang berwujud falsafah-falsafah kebatinan. Salah satunya adalah falsafah yang memberikan makna tentang kehidupan manusia.\ 

PEMBAHASAN 
Berdasarkan data yang diperoleh, Falsafah Jawa atau Unen-unen memiliki makna/nilai budi pekerti nilai religius, kebersamaan, kemandirian, kerendahan hati (tidak boleh sombong), dan instropeksi diri. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan dari sekian banyak falsafah yang menjadi pedoman hidup orang Jawa sebagai berikut: 

Data 1: Pring deling tegese kendel lan eling, kendel marga eling timbang nggrundel nganti suwing

Berdasarkan data 1 di atas terlihat bahwa hidup itu berani dan ingat. Berani disini berarti berani membela yang benar karena ingat bahwa hal itu memang benar. Kebanyakan dari anak muda sekarang melakukan tindakan yang jelek hanya karena sebuah gengsi. Mereka hanya sedang ikut-ikut dengan trend yang ada. Ketika blackberry sedang menjadi trend di masyarakat maka banyak yang membelinya. Jika tidak membelinya maka dikatakan akan ketinggalan zaman padahal handphone fungsi utamanya adalah untuk berkomunikasi dan untuk membantu pekerjaan tetapi mereka hanya berlomba untuk mencari prestise. Di tengah trend diatas, itu masih ada anak Indonesia yang berani melakukan hal berbeda. Mereka tidak ikut arus perkembangan zaman yang membawa dampak negatif. Banyak dari mereka menggunakan waktu sebaik mungkin untuk menimba ilmu daripada harus mencari sebuah gengsi. Uang yang mereka miliki mereka gunakan untuk membeli buku agar menambah wawasan atau juga mereka gunakan untuk membantu mereka yang berkekurangan dengan bakti sosial daripada digunakan untuk membeli yang tidak berguna.

Data 2: Pring kuwi suket, dhuwur tur jejeg, rejeki seret, rasah dha buneg. 

Berdasarkan data di atas mengandung mengandung pengertian walaupun sebuah bambu hanya sebuah rumput tetapi bisa berdiri tegak dan tinggi menjulang. Walupun rejeki kita sedikit dan agak tersendat jangan membuat pikiran kita putus asa. Perumpamaan ini ingin mengajarkan bahwa kita hendaknya memiliki mental yang kuat ketika menghadapi cobaan agar kita mendapatkan hasil yang tinggi dan besar seperti perumpaman di atas yang dilambangkan dengan bambu yang tinggi dan menjulang. Kita harus tangguh dan tidak mudah menyerah sebelum menyelesaikannya. Seperti sebuah slogan pada saat masa perjuangan yang menunjukkan tekad untuk berjuang yaitu merdeka atau mati. Bermental tangguh itu harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Saat mempersiapkan ulangan, kita harus belajar dengan baik agar kita dapat mengerjakan ulangan dengan baik tanpa mencontek. Itulah semangat yang hendaknya kita tanamkan pada diri kita masing-masing karena kita adalah masa depan Indonesia yang harus membangun Indonesia menuju arah yang lebih baik. 

 Data 3: Pring ori, urip iku mati, kabeh sing urip mesti bakale mati. 
Kalau kita dilahirkan di muka bumi maka kita akan kembali kepada kematian. Dengan filosofi ini mengandung pengertian bahwa janganlah kita hidup di dunia ini hanya menuruti hawa nafsu kita ingatlah tentang kematian, oleh karena itu marilah kita persiapkan kematian kita dengan beribadah dan mencari amal untuk bekal dalam menjalani kematian. Hidup itu hanya sekali maka dari itu isilah dengan hal-hal yang bermanfaat. Tidak ada artinya menghabiskan waktu dengan bersenang-senang terus. Lebih baik melakukan tindakan yang berguna bagi diri sendiri dan sesama. Saat terjadi bencana alam letusan gunung Merapi banyak sukarelawan dari kalangan anak-anak SMA yang turun membantu korban bencana. Mereka mencurahkan waktu dan tenaga mereka untuk membantu orang-orang yang berkesusahan akibat bencana Merapi. Mengapa mereka mau bersusah-susah demi korban bencana Merapi? Mereka bisa saja hanya diam dirumah dan tidak ikut menolong. Namun nyatanya mereka memilih untuk tetap menolong korban bencana alam. Itu hanyalah sedikit gambaran dari angkatan muda Indonesia yang memiliki kehendak baik. Sebenarnya kita bisa melakukannya jika kita hidup dalam solidaritas tanpa mementingkan diri sendiri. Jika kita hidup saling bahu-membahu maka kita bisa membangun Indonesia bersama-sama sebagai armada muda Indonesia. 

Data 4: Pring apus, urip iku lampus, dadi wong urip aja seneng apus-apus.

 Berdasarkan data di atas terlihat sebuah peribahasa jawa yang mengandung pengertian bahwa marilah kita hidup yang damai yang diwarnai dengan kejujuran. Kejujuran adalah harta yang paling berharga dalam hidup ini. Banyak orang sukses karena mereka jujur. Tetapi saat ini nilai kejujuran di tengah kebobrokan Indonesia rasanya menjadi hal berat oleh karena itu marilah kita mulai dari diri kita sendiri dan lingkungan sekitar kita.. Coba bayangkan jika setiap generasi muda bisa hidup dalam kejujuran pasti Indonesia yang bobrok akan berubah. Mungkin koruptor-koruptor penghisap uang rakyat tidak akan lagi di Indonesia karena semua bertindak dengan jujur. Mari kita wujudkan armada Indonesia yang jujur. 

Data 5: Pring petung, urip iku suwung, sanajan suwung nanging aja padha bingung. 
Artinya: Dalam perjalanan hidup, manusia kadang menemui kehampaan. Kadang kita bingung ketika hidup rasanya hampa. Saat-saat kita mengalami kesepian sebenarnya adalah waktu kita untuk berhenti dan melihat kebelakang, merefleksikan perjalanan hidup kita. Ketika merasa sepi janganlah bingung akan kehidupan kita.kita hendaknya berefleksi dan melihat kembali apa yang sudah kita lakukan dalam hidup kita. Setelah kita menyadarinya maka kita menyusun rencana apa yang akan kita lakukan untuk besok. Biarkanlah kamu melewati kesepian itu dan ingatlah bahwa kamu masih memiliki Tuhan yang selalu menyertai kamu. Jadi jangan putus asa dan bingung ketika kamu merasa dunia ini hampa.

Data 6: Pring wuluh, urip iku tuwuh, aja mung embuh, ethok-ethok ora weruh. 

Artinya: Kita hidup sebagai mahluk sosial yang saling melengkapi. Dewasa ini banyak dari kita yang hidup sebagai mahluk individualis. Kita menganggap bahwa kita hanya hidup sendiri dan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Jika kita hidup dalam kepeduliaan maka tidak akan orang yang hidup dalam kesusahan. Kita diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi. Kita diciptakan Tuhan dengan kelemahan dan tidak sempurna. Ketika ada yang berkesusahan maka sudah selayaknya kita membantu yang berkesusahan. Kita hendaknya peduli dengan sesama kita jangan bersikap acuh tak acuh pada sesama. 
Data 7: Pring cendani, urip iku wani, wani ngadepi, aja mlayu marga wedi

Artinya: Berani berbuat, berani bertanggungjawab itulah sifat seorang ksatria. Hidup jika hanya lari dari masalah sama halnya dengan seorang pengecut. Ketika kita berani melakukan sesuatu, maka kita juga harus berani menghadapi semua resiko atas pilihan kita. Dewasa ini banyak sekali anak muda yang hanya berani berbuat sesuatu tetapi tidak berani bertanggungjawab. Misalnya banyak sekali problematika tentang remaja yang hamil dan yang menghamili tidak mau bertanggungjawab. Itulah mentalitas pengecut yang tidak berani bertanggung jawab atas segala tindakannya. Namun tidak semua orang seperti itu. Masih banyak orang yang berani bertanggungjawab atas perbuatannya. 

Data 8: Pring kuning, urip iku eling, wajib padha eling, eling marga Sing Peparing. 

Artinya: Kadang kita diberi tetapi kita lupa untuk bersyukur atas apa yang telah kita terima. Tuhan itu sudah memberikan kepada kita banyak sekali, entah itu sebagai orang miskin atau kaya. Yang jelas Tuhan sudah memberikan kita hidup maka dari itu harus disyukuri. Di daerah Ethiopia masih banyak saudara-saudara kita yang kelaparan. Sementara kita sering tidak bersyukur atas makanan yang bisa kita makan. Malahan kita ingin makan yang enak-enak terus tetapi pada akhirnya makanan yang tidak dimakan, dibuang begitu saja. Kita sudah diberi rejeki oleh Tuhan, maka kita hendaknya bersyukur. Tuhan itu Maha Pemberi. Tuhan itu murah hati. Tuhan telah memberikan segalanya kepada kita: kekayaan alam, pendidikan yang bermutu, dan fasilitas yang lengkap sudah diberikan kepada kita. Maka dari itu, kita harus bersyukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan. Jika kita memiliki rejeki berlebih, hendaknya kita berbagi kepada yang berkekurangan. Mari kita bangun generasi muda Indonesia yang penuh syukur. 
Data 9: Aja waton ngomong, nanging ngomonga nganggo waton

Artinya : Jangan asal bicara, tetapi bicaralah dengan alasan yang jelas “Aja rumangsa bisa nanging bisaa rumangsa” Sangat mudah untuk Artinya : Jangan merasa bisa, menemukan ragam falsafah tapi bisalah merasa atau hidup dari jagat Jawa yang menggunakan perasaan sangat dalam maknanya,penuh kearifan, dan konotatif “Sepuh sepa, tuwa tuwas” ungkapannya. Artinya : Tua hambar atau Misal, tidak memiliki rasa lagi atau orang tua yang sia-sia. 

Data10: Bandha bisa lunga, pangkat bisa oncat, bojo ayu bisa melayu. 

Artinya : Harta dapat lenyap, jabatan dapat hilang, istri cantik dapat pergi, yang bermakna segala apa yang dimiliki bisa hilang kapan
saja“Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti”Artinya : Sekuat apapun prilaku sombong, takabur sewenang-wenang, akhirnya hancur oleh prilaku budi pekerti yang baik “Yitno yuwana lena kena” Artinya : Mereka yang waspada dan berhati-hati akan selamatsedangkan yang lengah dan seenaknya sendiri akan celaka. 

 Data 11: Dikuncenana digedhongana wong mati mangsa wurung. 

Artinya : Dicegah dengan cara apapun bila sudah saatnya tiba orang yang meninggal tidak dapat diperpanjang umurnya “Ngungkurake kadonyan ngalap kasuwargan” Artinya : Orang yang tidak mengutamakan kepentingan duniawi, tetapi berbuat kebaikkan yang hakiki untuk kepentingan akhiratnya nanti. Data 11: Sutra lungset ing sampiran. Artinya: Orang yang sangat pandai tetapi tidak memanfaatkan kepandaiannya sampai tua menjelang akhir. Sebagai manusia, hendaknya jika memiliki ilmu yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Bisa-bisa lah untuk saling berbagi. Sebab ilmu itu tidak akan ada manfaatnya jika kita tidak membaginya dengan orang lain. 

Data 12: Ing ngarsa sung tuladha, ing hayatnya madya mbangun karsa, tut wuri. 

Artinya : Didepan dapat handayani menjadi teladan, ditengah dapat menumbuhkan semangat, dibelakang sanggup memberi kekuatan. 

 Data 13: Urip Iku Urup Artinya: Hidup itu Nyala,

 Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik. 

Data 14: Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara

Artinya: Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak. 

Data 15: Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti. 

Artinya: segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar. Manusia yang hidup didunia ini tidak akan jauh dari sifat-sifat yang tercela. Kecuali manusia tersebut mempunyai niat dan tujuan yang jelas untuk menjalani kehidupan ini. Dan mau membunuh perasaan-perasaan jelek yang ada pada diri manusi tersebut. 

Data 16: Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha. 

Artinya: Berjuang tanpa perlu membawa massa. Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan. Kaya tanpa didasari kebendaan. Jika mendapatkan kesuksesan. Manusia tak harus melupakan usaha yang pernah ia lakukan. Jangan menggunakan kekuasaan dengan semena-semena. Menjaga dan saling mensyukuri atas apa yang telah didapat selama ini. 

Data 17: Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan. 

Artinya: Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri. Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu. Manusia pasti tidak akan jauh dari musibah. Sebab musibah itu adalah kunci dimana kita bisa menahan kesabaran dan keihlasan ketika allah memberikan suatu cobaan kepada hambanya. Karena dibalik itu ada suratan takdir yang sudah ditulis oleh-Nya.

 Data 18: Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman. 

Artinya: Jangan mudah terheran-heran. Jangan mudah menyesal. Jangan mudah terkejut-kejut. Jangan mudah ngambeg, jangan manja. Menjalani kehidupan ini harus apa adanya. Jangan mudah tergoda oleh godaan nafsu setan. Hidup harus di jalani sesuai dengan ketulusan hati kita. Sebab keihlasan hati itulah yang dapat menuntun kita kearah yang lebih baik. 

Data 19: Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman. 

Artinya: Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi. Jangan pernah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Contohnya mendapatkan kekuasaan atau jabatan. Sebab hal itu dapat menjerumuskan kita ke hal-hal yang menanggung dosa besar. Contohnya mencuri,korupsi dll. 

Data 20: Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka.

Artinya: Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah. Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka. Manusia selalu diberi akal untuk berfikir. Berfikir kritis menjalani kehidupan ini. Maka jika manusia diberi kelebihan oleh-Nya, maka manfaatkan kelebihan itu dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai menyesatkan orang lain. 

Data 21: Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo. 

Artinya: Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat. 

Data 22: Aja Adigang, Adigung, Adiguna. 

Artinya: Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti. Menjadi manusia yang ikhlas, sabar, dan tanpa pamrih. Maka akan menuntn manusia menjadi seseorang yang sukses menjalani kehidupan di dunia ini. Maka manusia tidak harus menjadi seorang yang berkuasa. Sebab yang berkuasa di dunia ini hanyalah Allah. 

Data 23; Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli

Artinya: Bekerja keras dan bersemangat tanpa pamrih; Cepat tanpa harus mendahului; Tinggi tanpa harus melebihi. 

 KESIMPULAN 

 Falsafah Jawa atau Unen-unen merupakan salah satu wujud kebudayaan masyarakat Jawa. Ia tidak hanya mampu memberikan gambaran tentang jati diri masyarakat Jawa, tentang simbol-simbol sosial yang mereka anut dalam beraktifitas, tapi juga tentang pegangan hidup mereka yang berwujud falsafah-falsafah kebatinan. Menggunakan unen-unen untuk menata hidup manusia. Makna dari ungkapan-ungkapan Jawa ini seringkali tidak dipahami oleh sebagian besar keturunan etnis Jawa di era modern ini. Maka tidak salah, jika muncul sebutan, "Wong Jowo sing ora njawani". Filosofi Jawa dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Warisan budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan mampu menambah wawasan kebijaksanaan. Adapun beberapa nilai budi pekerti tersebut antara lain nilai religius, kebersamaan, kemandirian, tidak boleh sombong, dan instropeksi diri. Dalam falsafah tersebut sebagai manusia hendaknya mempunyai tanggung jawab atas tuntutan menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Seperti halnya unen-unen sebagai berikut “Pring ori, urip iku mati, kabeh sing urip mesti bakale mati.” maksudnya Segalanya yang hidup pasti akan untuk mati. Hidup itu hanya sekali maka dari itu isilah dengan hal-hal yang bermanfaat. Tidak ada artinya menghabiskan waktu dengan bersenang-senang terus. Lebih baik melakukan tindakan yang berguna bagi diri sendiri dan sesama. 

DAFTAR PUSTAKA 
Pamungkas, Sri. 2012. Bahasa Indonesia dalam Berbagai Persepektif. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET. 
 Hendriyanto, Agoes. 2013. Filsafat Bahasa. Surakarta: YUMA PUSTAKA 
 Endraswara, Suwardi. 2010. Etika Hidup Orang Jawa. Yogyakarta: Narasi 
 A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar